- I hope you enjoy reading this blog, as much as i love writing it -

Wednesday, March 18, 2009

Laporan Hasil Observasi


Waktu observasi

Hari/Tanggal : Senin, 02 Maret 2009

Selasa, 10 Maret 2009

Senin, 16 Maret 2009

Tempat : SMA Negeri 1 Cibinong,
Jln. Mayor Oking Jayaatmaja No. 73. Kabupaten Bogor
Narasumber : Bpk. Supardin, S.Pd. selaku Staf Kurikulum
Materi : Fenomena dan proses pelaksanaan UN

B. Teknik Pengumpulan Data
Dalam observasi yang saya lakukan, yang bertindak sebagai narasumber adalah Bpk. Supardin, S.Pd., yang akrab saya panggil dengan nama Pak Pardin, beliau menjawab pertanyaan demi pertanyaan saya dengan singkat, lalu saya belajar menyimpulkan setiap point jawaban yang diberikan.
Teknik yang saya gunakan untuk memperoleh data adalah dengan menggunakan teknik wawancara, sehingga melalui percakapan-percakapan tersebut saya memperoleh berbagai informasi mengenai kegiatan yang berjalan dan dilakukan sekolah pra-UN. Adapun pengertian wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan pada si peneliti mengenai bidang atau sesuatu yang dibutuhkan oleh peneliti dalam rangka melengkapi data yang diperoleh melalui observasi. Dengan teknik wawancara tersebut, saya memperoleh data-data mengenai pelaksanaan UN, mulai dari persiapan dan pelaksanaan.


D. Temuan Lapangan, hasil wawancara dengan nara sumber :

Persiapan menghadapi UN yang kami lakukan di SMAN 1 Cibinong ini sudah hampir 90%, kegiatan yang dilakukan saat ini yaitu bimbel atau bimbingan belajar dan pendalaman materi bagi seluruh siswa kelas XII, baik kelas XII Program IPA dan XII Program IPS, tahun ini program Bahasa tidak ada kelas, dikarenakan tidak ada siswa yang berminat ataupun mendaftarkan diri untuk mengikuti kelas XII program Bahasa. Selain ada nya bimbel, dilaksankan juga evaluasi bimbingan belajar, tryout, dan yang rutin dilaksanakan juga yaitu morning test, tes setiap hari Senin mulai pukul 07.00-08.00 wib. Setiap morning test, mengujikan satu mata pelajaran sesuai jadwal yang telah dibuat. Juga disosialisasikan pola belajar siswa, agar psikologi peserta didik siap dalam mempersiapkan dan menghadapi UN.
Ada tiga macam tryout yang dilaksanakan di sekolah ini, yang pertama yaitu tryout yang dibuat oleh pihak sekolah, soal-soal tryout dipersiapkan oleh guru per mata pelajaran. Tryout yang kedua yaitu merupakan kerjasama dengan pihak Universitas atau Perguruan Tinggi, yaitu dengan Universitas Gunadarma, yang akan dilaksanakan besok, 11 Maret 2009 di SMAN 1 ini. Kerjasama dengan Gunadarma dalam memberikan tryout kepada seluruh siswa kelas XII telah terlaksana beberapa tahun belakangan, kira-kira 4-5 tahun terakhir ini. Tryout yang ketiga yaitu dari Dinas Pendidikan, yang telah dilaksanakan 16-18 Februari 2009, dan tryout yang kedua dari Dinas ini akan dilaksanakan 13,14 dan 16 Maret 2009, setelah tryout dari Perguruan Tinggi Gunadarma.
Hasil evaluasi peserta didik dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, hal ini dilihat dari rata-rata perolehan nilai UN dan UAS tahun lalu. Tahun sebelumnya, tahun ajaran 2006-2007, ada siswa yang memperoleh angka 10, yaitu angka sempurna untuk mata pelajaran matematika pada hasil UN. Tahun kemarin, tahun ajaran 2007-2008, tidak Cuma matematika saja siswa memperoleh nilai sempurna, namun pada mata pelajaran kimia juga ada siswa yang memperoleh nilai 10.
Mata pelajaran yang paling sulit yang diujikan dalam UN itu sendiri tergantung peserta didik nya masing-masing. Ada siswa yang menguasai matematika, namun lemah pada mata pelajaran bahasa Inggris, sehingga merasa bahasa inggris merupakan mata pelajaran yang paling dikhawatirkan, begitu pula sebaliknya. Namun, dilihat dari hasil UN tahun lalu, siswa kelas XII program IPA cenderung mengatakan sulit pada mata pelajaran fisika, bukan matematika, alasanya karena matematika hitungan, ilmu pasti. Sedangkan fisika banyak rumus-rumus yang harus dikuasai dan dipahami. Untuk siswa kelas XII program IPS, masih sama dari tahun ke tahun, yang menjadi kendala adalah mata pelajaran ekonomi, terutama materi ekonometrik. Solusinya, yang telah dijelaskan tadi, melaksanakan program bimbingan belajar, sebagai wadah siswa melakukan pendalaman materi. Di bimbel ini, suasana nya berbeda dengan belajar di kelas. Saat bimbel, porsi mengerjakan soal dan menyelesaikan soal lebih banyak daripada pemberian materi secara ceramah, siswa aktif menanyakan bagian mana yang belum dipahami, diadakan diskusi juga dalam menjawab soal yang dianggap sulit. Ini lah yang dinamakan pembentukan pola belajar siswa. Selain bimbel, kegiatan morning test cukup signifikan untuk memacu semangat belajar peserta didik, karena hasil morning test, per dua bulan akan dilaporkan atau disosialisasikan kepada orangtua murid, supaya bisa sharing dengan orangtua, orangtua mengetahui perkembangan belajar anaknya, diadakan juga pertemuan wali kelas dengan orangtua murid. Bagaimanapun jug, peran orangtua sangat menentukan dalam perkembangan belajar sang anak, karena populasi anak lebih banyak dirumah.
Bertambahnya jumlah mata pelajaran yang diujikan, menyebabkan fokus siswa menjadi terpecah, karena beban siswa otomatis bertambah. Namun, bertambahnya jumlah mata pelajaran diiringi adanya penurunan SKL UN dari pemerintah. Bila tahun lalu rata-rata UN harus 6,0, tahun ini rata-rata UN yang harus dicapai siswa minimal 5,50. Hal ini merupakan dampak dari hasil evaluasi UN tahun lalu yang tidak sesuai dengan harapan pemerintah, pihak sekolah dan semua pihak lainnya.Tahun lalu rata-rata 6,00 untuk tiga mata pelajaran yang diujikan, tahun ini rata-rata 5,50 untuk enam mata pelajaran.
Seiring bertambahnya jumlah mata pelajaran yang diujikan, pihak sekolah juga melakukan peningkatan, atau usaha paling tidak, mulai dari segi sarana prasarana sekolah, sampai dengan pola ajar. Saya rasa setiap sekolah juga melakukan upaya demi upaya untuk mengimbangi keputusan pemerintah terkait pelaksanaan UN. Dari sarana prasarana, sekolah mempersiapkan output peserta didik agar mampu dan bisa dalam mengaplikasikan komputer, tidak asing dengan dunia internet, bisa menggunakan situs-situs yang ada di internet, terutama situs pendidikan, untuk menunjang pembelajaran di kelas. Kegiatan tersebut diberikan kepada peserta didik melalui mata pelajaran TI (Teknologi Informasi). Untuk guru nya sendiri, sekolah telah mensosialisasikan beberapa macam kegiatan, yaitu membantu guru-guru yang belum bisa memanfaatkan media internet, diadakan juga pelatihan-pelatihan sehingga menunjang kemampuan dan kompetensi guru dalam mengikuti perkembangan teknologi. Sehingga tidak ada kendala bagi guru dalam menggunakan komputer dan browsing bahan ajar di internet.
Selain mempersiapkan peserta didik, sekolah juga mengadakan kegiatan untuk meningkatkan kinerja guru. Sekolah mendapat bantuan dari Dinas berupa kegiatan SKM (Sekolah Kategori Mandiri), diantaranya kegiatan untuk meningkatkan mutu dan kualitas guru. Dari kegiatan itu, sekolah mengarahkan guru untuk mengikuti workshop atau pelatihan dalam menyusun segala sesuatu yang berkaitan dengan system pengajaran. Para guru menyusun program tahunan, program semester. Jadi, dengan adanya biaya sekolah untuk memfasilitasi guru, sang guru memiliki ketrampilan dibidangnya. Sejauh ini berjalan efektif dan hasilnya lumayan signifikan.
Dengan adanya standar dari BSNP ( Badan Standar Nasional Pendidikan), kita secara global setuju dengan UN, karena yang namannya ujian nasional itu merupakan standar nasional, jika sekolah-sekolah sendiri yang mengadakan ujian, berarti hal tersebut bukan berstandar nasional, melainkan standar lokal. Sementara, bisa kita lihat bersama, negara-negara di Asia, mereka sudah memiliki standar khusus. Jadi ada batas minimal terendah untuk syarat kelulusan, mereka juga sudah memiliki standar baku. Nah, jika di Indonesia tidak menggunakan UN, standar itu dikembalikan ke titik mana, evaluasinya tidak ada. Satu-satunya standar yang nasional adalah UN, jadi UN berfungsi untuk menstandarkan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Sudah tepat UN menjadi bagian dari evaluasi pembelajaran, karena sudah memenuhi criteria evaluasi, yaitu SKL ada, kisi-kisi dan parameter soal UN telah diberikan pemerintah, prediksi soal UN juga sudah ada.
Kabar baik dari hasil UN tahun lalu bagi SMAN 1 Cibinong, yaitu peringkat SMAN 1 Cibinong dilihat dari rata-rata hasil UN, lingkup se-Kabupaten Bogor, dari enam sekolah menengah atas yang diprogramkan, untuk jurusan IPA, menduduki peringkat II, jurusan IPS diperingkat V, sedangkan Bahasa menduduki peringkat I. suatu hasil yang cukup membanggakan, perlu dipertahankan dan ditingkatkan.
Sejauh ini, prediksi sekolah mengenai hasil UN tahun ini, dilihat dari hasil tryout I yang telah dilaksanakan, kami selaku guru masih agak pesimis. Alasannya, nilai tryout yang diperoleh peserta didik kecil-kecil, belum mencapai target dan SKL. Namun kami berusaha optimis dan berasumsi bahwa nilai hasil tryout I ini mudah-mudahan menjadi pemicu bagi siswa, supaya kedepannya lebih giat belajar, mereka harus berusaha lebih keras lagi untuk mencapai SKL UN. Ditambah lagi, kami pihak sekolah telah memberikan motivasi training kepada seluruh siswa kelas XII, untuk memacu semangat belajar siswa. Jadi, prediksi nya untuk hasil UN tahun ini, dengan diberikanya motivasi training, peserta didik termotivasi, muncul minat belajar, kemudian hasil tryout yang telah dibagikan sekolah juga bisa dimanfaatkan siswa, serta dengan fasilitas dan kinerja yang telah dilakukan oleh sekolah, siswa bisa lulus 100%. Itulah prediksi sekaligus harapan kami.
Respon peserta didik sendiri dengan adanya kebijakan pemerintah dalam melaksakanan UN, melalui sharing dan mengobrol dengan siswa kelas XII, motivasi mereka tidak menjadi turun , respon mereka cukup baik dan menerima. Mereka memiliki semangat yang tinggi dan melihat bahwa secara fisik SMAN mereka, yaitu SMAN 1 ini sudah mulai meningkat, sarana prasarana terpenuhi, sehingga peserta didik merasa terpanggil, ada tanggungjawab untuk meningkatkan kualitas SMAN 1 ini secara akademik.
Mengenai hasil UN akan mempengaruhi siswa untuk bisa mendaftar dan mengikuti SNMPTN, itu baru isu atau wacana saja, belum ada kepastian, karena nanti pelaksanaan pemeriksaan, jika berdasarkan prosedur operasional sekolah, pemeriksaan scannerisasi oleh komputer juga diawasi oleh pihak Perguruan Tinggi. Harapan saya, perguruan tinggi juga mulai melirik kebawah. Bahwa standarisasinya juga berubah. Dari SPMB menjadi SNMPTN. Pihak perguruan tinggi juga mengambil nilai hasil UN terbaik untk dijadikan bahan baku penerimaan mahasiswa di Perguruan Tinggi.
Kendala-kendala yang kami alami selama proses persiapan UN, karena kami selalu sharing, para guru, dengan sistim berbagi jadwal orang per orangnya, guru-guru kelas XII sudah mengkondisikan diri dan mempersiapkan diri masing-masing, jadi sampai saat ini dari pihak sekolah tidak ada kendali yang berarti, tidak ada hambatan. Kendala yang berasal dari pemerintah, sekaligus saran untu pemerintah terkait pelaksanaan UN, yang perlu ditingkatkan adalah sosialisasi prosedur operasional sekolah nya, diharapkan lebih awal, sehingga guru-guru yang mengajar di kelas lebih awal dalam memahami kisi-kisi, prediksi soal UN, termasuk SKL. Guru-guru juga bisa memiliki arah yang tepat dalam pemberian materi kepada peserta didik.
Kendalanya, sementara ini kan, POS UN selalu datang agak terlambat, POS baru disosialisasikan bulan Februari, sementara kegiatan belajar mengajar untuk persiapan UN, pihak sekolah telah mulai dari bulan Agustus, dengan dilaksanakan bimbel dan segala macam kegiatan lainnya untuk persiapan UN. Sementara POS baru diterima sekolah pada bulan Februari, dua bulan menjelang pelaksanaan UN. Diharapkan, tahun-tahun berikutnya, sosialisasi POS lebih awal.
Pihak-pihak yang terkait dalam proses persiapan UN, yaitu guru-guru kelas XII, baik dalam mengajar dikelas dan pemberian bimbel. Kemudian untuk pelaksanaan evaluasi bimbel dibentuk panitia khusus, begitu juga dengan panitia tryout, panitia tryout yang bekerja sama dengan perguruan tinggi, serta panitia UN.


PENUTUP
A. Kesimpulan dan Saran
UN adalah indikator kelulusan. Namun banyak yang menilai UN tak bermanfaat karena hanya mengkondisikan penyelewengan-demi anak didik dan sekolah terangkat citranya. Guru, kepala sekolah, dan bahkan pejabat daerah terlibat jadi tim sukses. Passing grade ditetapkan, tapi sarana, prasarana, dan sumberdaya belum terkondisikan. Penentuan standar nilai UN di Indonesia tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas sarana pendukung. Alhasil terjadilah bentuk tindakan tidak terpuji untuk mencapai standar minimal kelulusan tersebut yang dilakukan pihak sekolah ataupun para siswa. Segala cara dilakukan agar murid lulus, bukan dengan introspeksi. We want to look good, but didn’t want to be really good.
Sebagian menyayangkan jerih payah tiga tahun hanya ditentukan dalam tiga hari. Banyak murid cerdas yang gagal dalam menjalani UN. Murid cerdas justru terbebani mentalnya. Apalagi, andaikata tak lulus, mereka musti mengulang Paket C yang prestisenya kalah jauh. Dorongan belajar pada akhirnya justru sulit dibangkitkan dan hasil maksimal mustahil diperoleh.
Di sisi lain, kualitas pendidikan memang sedemikian rendahnya. Dengan passing grade yang cukup rendah, siswa di Indonesia masih banyak juga yang tidak lulus. Ketika ada wacana untuk menaikkan standar, protes di sana-sini. Solusinya? Mungkin kembalikan saja ke sistem Ebtanas lama yang dirasa lebih “fair” dan tidak mengundang banyak masalah, sembari menunggu format UN yang benar-benar pas untuk negeri ini.
Atau, sebelum UN, misalnya sekolah mengadakan seleksi intern sehingga hanya benar-benar murid yang siap yang bisa mengikuti UN. Atau, UN dilakukan dengan beberapa passing grade: yang nilainya sekian bisa mendaftar S1, yang sekian hanya bisa mendaftar diploma, yang kurang bisa mengulang tahun depan.
Yang jelas, jika KBK/KTSP diterapkan, kita semua mesti konsisten. Evaluasi harus berdasarkan proses. UN tak perlu dipaksakan sebagai penentu kelulusan. Tapi sejauh mana kesiapan kita (terutama di daerah) untuk menerapkannya.

B. Saran mengenai tugas observasi
Dari awal, mendapat tugas observasi mengenai proses pelaksanaan UN, saya merasa sangat kurang mendapat pengarahan. Apa tujuan dari observasi ini, instrumen apa saja yang menjadi ruang lingkup dalam observasi dan wawancara ke sekolah. Parameter apa saja yang harus saya ketahui sebelumnya, supaya saya mengerti, bahwa ada hal-hal yang sangat privasi dalam pihak sekolah, contohnya saja masalah Anggaran Biaya sekolah dalam melaksanakan UN. Berharap ke depannya, di waktu mendatang, bisa lebih baik lagi dalam melakukan observasi, tentunya dibutuhkan arahan yang baik dari dosen yang berkaitan memberikan tugas.
Terimakasih..

No comments:

Post a Comment

Wednesday, March 18, 2009

Laporan Hasil Observasi


Waktu observasi

Hari/Tanggal : Senin, 02 Maret 2009

Selasa, 10 Maret 2009

Senin, 16 Maret 2009

Tempat : SMA Negeri 1 Cibinong,
Jln. Mayor Oking Jayaatmaja No. 73. Kabupaten Bogor
Narasumber : Bpk. Supardin, S.Pd. selaku Staf Kurikulum
Materi : Fenomena dan proses pelaksanaan UN

B. Teknik Pengumpulan Data
Dalam observasi yang saya lakukan, yang bertindak sebagai narasumber adalah Bpk. Supardin, S.Pd., yang akrab saya panggil dengan nama Pak Pardin, beliau menjawab pertanyaan demi pertanyaan saya dengan singkat, lalu saya belajar menyimpulkan setiap point jawaban yang diberikan.
Teknik yang saya gunakan untuk memperoleh data adalah dengan menggunakan teknik wawancara, sehingga melalui percakapan-percakapan tersebut saya memperoleh berbagai informasi mengenai kegiatan yang berjalan dan dilakukan sekolah pra-UN. Adapun pengertian wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan pada si peneliti mengenai bidang atau sesuatu yang dibutuhkan oleh peneliti dalam rangka melengkapi data yang diperoleh melalui observasi. Dengan teknik wawancara tersebut, saya memperoleh data-data mengenai pelaksanaan UN, mulai dari persiapan dan pelaksanaan.


D. Temuan Lapangan, hasil wawancara dengan nara sumber :

Persiapan menghadapi UN yang kami lakukan di SMAN 1 Cibinong ini sudah hampir 90%, kegiatan yang dilakukan saat ini yaitu bimbel atau bimbingan belajar dan pendalaman materi bagi seluruh siswa kelas XII, baik kelas XII Program IPA dan XII Program IPS, tahun ini program Bahasa tidak ada kelas, dikarenakan tidak ada siswa yang berminat ataupun mendaftarkan diri untuk mengikuti kelas XII program Bahasa. Selain ada nya bimbel, dilaksankan juga evaluasi bimbingan belajar, tryout, dan yang rutin dilaksanakan juga yaitu morning test, tes setiap hari Senin mulai pukul 07.00-08.00 wib. Setiap morning test, mengujikan satu mata pelajaran sesuai jadwal yang telah dibuat. Juga disosialisasikan pola belajar siswa, agar psikologi peserta didik siap dalam mempersiapkan dan menghadapi UN.
Ada tiga macam tryout yang dilaksanakan di sekolah ini, yang pertama yaitu tryout yang dibuat oleh pihak sekolah, soal-soal tryout dipersiapkan oleh guru per mata pelajaran. Tryout yang kedua yaitu merupakan kerjasama dengan pihak Universitas atau Perguruan Tinggi, yaitu dengan Universitas Gunadarma, yang akan dilaksanakan besok, 11 Maret 2009 di SMAN 1 ini. Kerjasama dengan Gunadarma dalam memberikan tryout kepada seluruh siswa kelas XII telah terlaksana beberapa tahun belakangan, kira-kira 4-5 tahun terakhir ini. Tryout yang ketiga yaitu dari Dinas Pendidikan, yang telah dilaksanakan 16-18 Februari 2009, dan tryout yang kedua dari Dinas ini akan dilaksanakan 13,14 dan 16 Maret 2009, setelah tryout dari Perguruan Tinggi Gunadarma.
Hasil evaluasi peserta didik dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, hal ini dilihat dari rata-rata perolehan nilai UN dan UAS tahun lalu. Tahun sebelumnya, tahun ajaran 2006-2007, ada siswa yang memperoleh angka 10, yaitu angka sempurna untuk mata pelajaran matematika pada hasil UN. Tahun kemarin, tahun ajaran 2007-2008, tidak Cuma matematika saja siswa memperoleh nilai sempurna, namun pada mata pelajaran kimia juga ada siswa yang memperoleh nilai 10.
Mata pelajaran yang paling sulit yang diujikan dalam UN itu sendiri tergantung peserta didik nya masing-masing. Ada siswa yang menguasai matematika, namun lemah pada mata pelajaran bahasa Inggris, sehingga merasa bahasa inggris merupakan mata pelajaran yang paling dikhawatirkan, begitu pula sebaliknya. Namun, dilihat dari hasil UN tahun lalu, siswa kelas XII program IPA cenderung mengatakan sulit pada mata pelajaran fisika, bukan matematika, alasanya karena matematika hitungan, ilmu pasti. Sedangkan fisika banyak rumus-rumus yang harus dikuasai dan dipahami. Untuk siswa kelas XII program IPS, masih sama dari tahun ke tahun, yang menjadi kendala adalah mata pelajaran ekonomi, terutama materi ekonometrik. Solusinya, yang telah dijelaskan tadi, melaksanakan program bimbingan belajar, sebagai wadah siswa melakukan pendalaman materi. Di bimbel ini, suasana nya berbeda dengan belajar di kelas. Saat bimbel, porsi mengerjakan soal dan menyelesaikan soal lebih banyak daripada pemberian materi secara ceramah, siswa aktif menanyakan bagian mana yang belum dipahami, diadakan diskusi juga dalam menjawab soal yang dianggap sulit. Ini lah yang dinamakan pembentukan pola belajar siswa. Selain bimbel, kegiatan morning test cukup signifikan untuk memacu semangat belajar peserta didik, karena hasil morning test, per dua bulan akan dilaporkan atau disosialisasikan kepada orangtua murid, supaya bisa sharing dengan orangtua, orangtua mengetahui perkembangan belajar anaknya, diadakan juga pertemuan wali kelas dengan orangtua murid. Bagaimanapun jug, peran orangtua sangat menentukan dalam perkembangan belajar sang anak, karena populasi anak lebih banyak dirumah.
Bertambahnya jumlah mata pelajaran yang diujikan, menyebabkan fokus siswa menjadi terpecah, karena beban siswa otomatis bertambah. Namun, bertambahnya jumlah mata pelajaran diiringi adanya penurunan SKL UN dari pemerintah. Bila tahun lalu rata-rata UN harus 6,0, tahun ini rata-rata UN yang harus dicapai siswa minimal 5,50. Hal ini merupakan dampak dari hasil evaluasi UN tahun lalu yang tidak sesuai dengan harapan pemerintah, pihak sekolah dan semua pihak lainnya.Tahun lalu rata-rata 6,00 untuk tiga mata pelajaran yang diujikan, tahun ini rata-rata 5,50 untuk enam mata pelajaran.
Seiring bertambahnya jumlah mata pelajaran yang diujikan, pihak sekolah juga melakukan peningkatan, atau usaha paling tidak, mulai dari segi sarana prasarana sekolah, sampai dengan pola ajar. Saya rasa setiap sekolah juga melakukan upaya demi upaya untuk mengimbangi keputusan pemerintah terkait pelaksanaan UN. Dari sarana prasarana, sekolah mempersiapkan output peserta didik agar mampu dan bisa dalam mengaplikasikan komputer, tidak asing dengan dunia internet, bisa menggunakan situs-situs yang ada di internet, terutama situs pendidikan, untuk menunjang pembelajaran di kelas. Kegiatan tersebut diberikan kepada peserta didik melalui mata pelajaran TI (Teknologi Informasi). Untuk guru nya sendiri, sekolah telah mensosialisasikan beberapa macam kegiatan, yaitu membantu guru-guru yang belum bisa memanfaatkan media internet, diadakan juga pelatihan-pelatihan sehingga menunjang kemampuan dan kompetensi guru dalam mengikuti perkembangan teknologi. Sehingga tidak ada kendala bagi guru dalam menggunakan komputer dan browsing bahan ajar di internet.
Selain mempersiapkan peserta didik, sekolah juga mengadakan kegiatan untuk meningkatkan kinerja guru. Sekolah mendapat bantuan dari Dinas berupa kegiatan SKM (Sekolah Kategori Mandiri), diantaranya kegiatan untuk meningkatkan mutu dan kualitas guru. Dari kegiatan itu, sekolah mengarahkan guru untuk mengikuti workshop atau pelatihan dalam menyusun segala sesuatu yang berkaitan dengan system pengajaran. Para guru menyusun program tahunan, program semester. Jadi, dengan adanya biaya sekolah untuk memfasilitasi guru, sang guru memiliki ketrampilan dibidangnya. Sejauh ini berjalan efektif dan hasilnya lumayan signifikan.
Dengan adanya standar dari BSNP ( Badan Standar Nasional Pendidikan), kita secara global setuju dengan UN, karena yang namannya ujian nasional itu merupakan standar nasional, jika sekolah-sekolah sendiri yang mengadakan ujian, berarti hal tersebut bukan berstandar nasional, melainkan standar lokal. Sementara, bisa kita lihat bersama, negara-negara di Asia, mereka sudah memiliki standar khusus. Jadi ada batas minimal terendah untuk syarat kelulusan, mereka juga sudah memiliki standar baku. Nah, jika di Indonesia tidak menggunakan UN, standar itu dikembalikan ke titik mana, evaluasinya tidak ada. Satu-satunya standar yang nasional adalah UN, jadi UN berfungsi untuk menstandarkan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Sudah tepat UN menjadi bagian dari evaluasi pembelajaran, karena sudah memenuhi criteria evaluasi, yaitu SKL ada, kisi-kisi dan parameter soal UN telah diberikan pemerintah, prediksi soal UN juga sudah ada.
Kabar baik dari hasil UN tahun lalu bagi SMAN 1 Cibinong, yaitu peringkat SMAN 1 Cibinong dilihat dari rata-rata hasil UN, lingkup se-Kabupaten Bogor, dari enam sekolah menengah atas yang diprogramkan, untuk jurusan IPA, menduduki peringkat II, jurusan IPS diperingkat V, sedangkan Bahasa menduduki peringkat I. suatu hasil yang cukup membanggakan, perlu dipertahankan dan ditingkatkan.
Sejauh ini, prediksi sekolah mengenai hasil UN tahun ini, dilihat dari hasil tryout I yang telah dilaksanakan, kami selaku guru masih agak pesimis. Alasannya, nilai tryout yang diperoleh peserta didik kecil-kecil, belum mencapai target dan SKL. Namun kami berusaha optimis dan berasumsi bahwa nilai hasil tryout I ini mudah-mudahan menjadi pemicu bagi siswa, supaya kedepannya lebih giat belajar, mereka harus berusaha lebih keras lagi untuk mencapai SKL UN. Ditambah lagi, kami pihak sekolah telah memberikan motivasi training kepada seluruh siswa kelas XII, untuk memacu semangat belajar siswa. Jadi, prediksi nya untuk hasil UN tahun ini, dengan diberikanya motivasi training, peserta didik termotivasi, muncul minat belajar, kemudian hasil tryout yang telah dibagikan sekolah juga bisa dimanfaatkan siswa, serta dengan fasilitas dan kinerja yang telah dilakukan oleh sekolah, siswa bisa lulus 100%. Itulah prediksi sekaligus harapan kami.
Respon peserta didik sendiri dengan adanya kebijakan pemerintah dalam melaksakanan UN, melalui sharing dan mengobrol dengan siswa kelas XII, motivasi mereka tidak menjadi turun , respon mereka cukup baik dan menerima. Mereka memiliki semangat yang tinggi dan melihat bahwa secara fisik SMAN mereka, yaitu SMAN 1 ini sudah mulai meningkat, sarana prasarana terpenuhi, sehingga peserta didik merasa terpanggil, ada tanggungjawab untuk meningkatkan kualitas SMAN 1 ini secara akademik.
Mengenai hasil UN akan mempengaruhi siswa untuk bisa mendaftar dan mengikuti SNMPTN, itu baru isu atau wacana saja, belum ada kepastian, karena nanti pelaksanaan pemeriksaan, jika berdasarkan prosedur operasional sekolah, pemeriksaan scannerisasi oleh komputer juga diawasi oleh pihak Perguruan Tinggi. Harapan saya, perguruan tinggi juga mulai melirik kebawah. Bahwa standarisasinya juga berubah. Dari SPMB menjadi SNMPTN. Pihak perguruan tinggi juga mengambil nilai hasil UN terbaik untk dijadikan bahan baku penerimaan mahasiswa di Perguruan Tinggi.
Kendala-kendala yang kami alami selama proses persiapan UN, karena kami selalu sharing, para guru, dengan sistim berbagi jadwal orang per orangnya, guru-guru kelas XII sudah mengkondisikan diri dan mempersiapkan diri masing-masing, jadi sampai saat ini dari pihak sekolah tidak ada kendali yang berarti, tidak ada hambatan. Kendala yang berasal dari pemerintah, sekaligus saran untu pemerintah terkait pelaksanaan UN, yang perlu ditingkatkan adalah sosialisasi prosedur operasional sekolah nya, diharapkan lebih awal, sehingga guru-guru yang mengajar di kelas lebih awal dalam memahami kisi-kisi, prediksi soal UN, termasuk SKL. Guru-guru juga bisa memiliki arah yang tepat dalam pemberian materi kepada peserta didik.
Kendalanya, sementara ini kan, POS UN selalu datang agak terlambat, POS baru disosialisasikan bulan Februari, sementara kegiatan belajar mengajar untuk persiapan UN, pihak sekolah telah mulai dari bulan Agustus, dengan dilaksanakan bimbel dan segala macam kegiatan lainnya untuk persiapan UN. Sementara POS baru diterima sekolah pada bulan Februari, dua bulan menjelang pelaksanaan UN. Diharapkan, tahun-tahun berikutnya, sosialisasi POS lebih awal.
Pihak-pihak yang terkait dalam proses persiapan UN, yaitu guru-guru kelas XII, baik dalam mengajar dikelas dan pemberian bimbel. Kemudian untuk pelaksanaan evaluasi bimbel dibentuk panitia khusus, begitu juga dengan panitia tryout, panitia tryout yang bekerja sama dengan perguruan tinggi, serta panitia UN.


PENUTUP
A. Kesimpulan dan Saran
UN adalah indikator kelulusan. Namun banyak yang menilai UN tak bermanfaat karena hanya mengkondisikan penyelewengan-demi anak didik dan sekolah terangkat citranya. Guru, kepala sekolah, dan bahkan pejabat daerah terlibat jadi tim sukses. Passing grade ditetapkan, tapi sarana, prasarana, dan sumberdaya belum terkondisikan. Penentuan standar nilai UN di Indonesia tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas sarana pendukung. Alhasil terjadilah bentuk tindakan tidak terpuji untuk mencapai standar minimal kelulusan tersebut yang dilakukan pihak sekolah ataupun para siswa. Segala cara dilakukan agar murid lulus, bukan dengan introspeksi. We want to look good, but didn’t want to be really good.
Sebagian menyayangkan jerih payah tiga tahun hanya ditentukan dalam tiga hari. Banyak murid cerdas yang gagal dalam menjalani UN. Murid cerdas justru terbebani mentalnya. Apalagi, andaikata tak lulus, mereka musti mengulang Paket C yang prestisenya kalah jauh. Dorongan belajar pada akhirnya justru sulit dibangkitkan dan hasil maksimal mustahil diperoleh.
Di sisi lain, kualitas pendidikan memang sedemikian rendahnya. Dengan passing grade yang cukup rendah, siswa di Indonesia masih banyak juga yang tidak lulus. Ketika ada wacana untuk menaikkan standar, protes di sana-sini. Solusinya? Mungkin kembalikan saja ke sistem Ebtanas lama yang dirasa lebih “fair” dan tidak mengundang banyak masalah, sembari menunggu format UN yang benar-benar pas untuk negeri ini.
Atau, sebelum UN, misalnya sekolah mengadakan seleksi intern sehingga hanya benar-benar murid yang siap yang bisa mengikuti UN. Atau, UN dilakukan dengan beberapa passing grade: yang nilainya sekian bisa mendaftar S1, yang sekian hanya bisa mendaftar diploma, yang kurang bisa mengulang tahun depan.
Yang jelas, jika KBK/KTSP diterapkan, kita semua mesti konsisten. Evaluasi harus berdasarkan proses. UN tak perlu dipaksakan sebagai penentu kelulusan. Tapi sejauh mana kesiapan kita (terutama di daerah) untuk menerapkannya.

B. Saran mengenai tugas observasi
Dari awal, mendapat tugas observasi mengenai proses pelaksanaan UN, saya merasa sangat kurang mendapat pengarahan. Apa tujuan dari observasi ini, instrumen apa saja yang menjadi ruang lingkup dalam observasi dan wawancara ke sekolah. Parameter apa saja yang harus saya ketahui sebelumnya, supaya saya mengerti, bahwa ada hal-hal yang sangat privasi dalam pihak sekolah, contohnya saja masalah Anggaran Biaya sekolah dalam melaksanakan UN. Berharap ke depannya, di waktu mendatang, bisa lebih baik lagi dalam melakukan observasi, tentunya dibutuhkan arahan yang baik dari dosen yang berkaitan memberikan tugas.
Terimakasih..

No comments:

Post a Comment